Detik seakan harapan yang menjelma menjadi musuh gulita
Kesombongan menyaru bagai ketegaran jiwa
Kepasrahan berwujud bagai kelamnya nyata
Jiwa raga punah dihempas sang kata yang meraja
Dirinya yang mengaku cinta seakan tiada tertutup jera
Janji demi janji kian sirna terlupa rasa
Harapan terlepas belenggu nestapa semakin tersiksa
Secoreng dosa nan luka perlahan dibenarkan Sang Pencipta
Seonggok melodi berdarah syahdu berkaca seakan musuh durjana
Air mata menjelma menjadi irisan luka menyiksa
Ingin hati melangkah pergi membawa kehangatan cinta
Atau memilih mendepak harapan luka
Aku, Kamu, Kita...
Mesra canda tawa kian indah terlupa sirna
Tangis pedih luka sungguh hina menggugurkan rasa
Amat menjijikan semua usai semudah logika sang bocah
Satu perayaan berharga tak terjangkau lirih
Awal - Akhir, bagai rencana tercatat mahir
Sia-sia ataukah amat mempesona tuk dijaga kesuciannya
Benak bertanya amat gelisah tanpa jawaban terarah
- - -
Usaikah permainan cinta di titik jawaban pasrah?










